Jumat, 03 April 2009

Kini perang browser terjadi

KOMPETISI perebutan pasar pengguna browser memang terbilang cukup ketat. Perusahaan-perusahaan yang sebelumnya tidak memiliki fokus bisnis penyediaan browser juga ikut-ikutan nimbrung. Google, misalnya, perusahaan yang dikenal sebagai mesin pencari situs itu mengiming-imingi pengguna internet dengan browser besutannya, Google Chrome. Sekitar dua minggu lalu Google bahkan semakin serius menggarap potensi pasar Chrome dengan melakukan pengembangan Chrome menuju versi 2.


Tidak hanya Google, pesaing ketat perusahaan perangkat lunak Microsoft, Apple Inc, juga mengekor dengan meluncurkan browser yang kompatibel dengan komputer berbasis Windows. Apple menerobos pasar browser dengan merilis Safari 3.2.2 untuk Windows. Akhir Februari lalu, Apple bahkan kembali meluncurkan browser terbarunya yang masih dalam tahap pengujian, yaitu Safari 4 Public Beta Build 5528.16.

Sebagai penyandang gelar perusahaan perangkat lunak terbesar di dunia, Microsoft tidak tinggal diam menonton ‘pemberontakan’ para pesaingnya itu. Perusahaan milik Bill Gates–orang terkaya di dunia itu–langsung menawarkan publik amunisi terbaru mereka, yakni Internet Explorer 8 release candidate (RC).

Paling mutakhir, minggu lalu perusahaan perangkat lunak yang berbasis di Norwegia, Opera Software ASA, mengaku telah menguji browser Opera 10.0 Alpha Build 13.55. Pihak Opera merasa belum puas dengan kinerja Opera versi 9.64, yang juga belum lama dilempar ke pasar. Hampir bersamaan dengan pengumuman versi alfa Opera, persis satu hari sebelumnya Mozilla juga merilis versi beta ke-3 dari browser miliknya, Firefok 3.1.

Perang dunia browser

Sejak internet ditemukan pertama kali oleh Tim Berners-Lee pada awal 1990-an, pertempuran meraih pangsa pasar browser memang terus dilakukan perusahaan penyedia perangkat lunak. Ketika itu para pengamat menyebutnya sebagai ‘perang dunia browser pertama’, yakni antara Mosaic (cikal bakal Internet Explorer) dan Netscape Navigator.

Kini, pemain ‘perang dunia browser jilid 2′ semakin banyak, antara lain Internet Explorer, Firefox, Opera, Avant, Safari, Flock, Maxthon, Chrome, SeaMonkey, dan sebagainya.

Ketatnya persaingan itu jelas menguntungkan konsumen, terutama dalam hal peningkatan fitur browser. Sebagai contoh, sebelumnya kita tidak mengenal fitur tabbed browsing, kecuali setelah Opera melaju pada 2005. Fitur tersebut memudahkan kita menjelajahi dunia maya dengan nyaman dan praktis.

Para penyedia browser juga semakin meningkatkan keamanan browsing dengan menerapkan teknologi anti-phishing (antipencurian) dan anti-spyware (antimata-mata). Yang lebih menguntungkan lagi, hampir semua perangkat lunak tersebut tidak berbayar. Bahkan Opera yang sebelumnya mewajibkan pengguna membayar sejumlah biaya untuk menggunakan perangkat lunaknya kemudian memutuskan berubah haluan menjadi freeware. sumber : http://www.mediaindonesia.com/read/2009/03/03/65771/43/7/Perang_Dunia_Browser_Jilid_Dua_

Tidak ada komentar:

Posting Komentar